• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
twitter instagram

SUKA-NGAYAL

written by reza kahar

Tidurku ber-alas-kan sajadah, berselimutkan parka, dan berada di sekitar orang yang serupa.

Berjalan ku menusuri lantai demi lantai, dengan memijakkan beberapa buah anak tangga.

Satu per satu kulihat pintu ruangan tertutup dengan rapat. Kulihat beberapa wanita dengan berseragam biru langit sedang menggoreskan pena diatas meja penuh obat.

Sesekali mereka masuk ke ruangan yang tertutup. Mungkin ada panggilan dari yang membutuhkan.

Hai, kamu.

Tidak kah kau merasakan apa yang aku rasakan? Bukan kah kita merupakan sepasang insan yang sedang menaruh hati? Meski bukan lewat ijab qabul.

Aku sudah tidak seperti dulu. Walau baru dua hari.

Aku mulai menjadi orang yang selalu memberikan informasi tentang keberadaan maupun kegiatanku.

Jelas, ini yang kamu mau.

Aku tidak akan memikirkan apapun yang membuatku sakit darimu. Lakukan, lah. Karena, aku cuma sekedar informan yang kamu dengar. Bukan yang harus kamu ikuti.

Tenang, lah. Tidak ada berkurang sedikitpun rasa dariku untukmu. Aku berharap sama darimu.

Ketika kau merasa aku seperti tidak biasa, jangan gundah. sesungguhnya aku sedang menjadi orang yang kau mau.

Selamat malam.




Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Bagimu agama-mu, bagiku agama-ku

Begitu juga dengan bagimu rezeki-mu, bagiku rezeki-ku. Kalo rezeki kita bisa dapet bersama, jangan saling menghujat.

Bahagia kau yang ciptakan dengan caramu sendiri. Mungkin saja dengan sifatmu, sikapmu, atau tingkah laku. 

Materi? 
Izinkan aku sejenak untuk tertawa dengan pernyataan itu.

HAHAHAHAHAHA

Kau punya segalanya, dengan semua yang kau dapatkan dengan hasil keringatmu, itu rezekimu. Aku gak mau usik.

Dengan itu kau bangun kebahagiaan? Silahkan. Jika yang ingin kau bahagiakan me-ng-amin-kan, maka dia akan bertahan. Jika tidak, berarti introspeksi, lah.

Kau bisa terbang, aku tidak. 
Aku bisa mengendalikan api, sedangkan kau tidak.

Maksudnya, apa yang aku bisa, belum tentu kau bisa. Begitu juga sebaliknya.

Burung juga akan memilih sangkar yang membuat dia merasa nyaman untuk istirahat. Ketika dia merasa tidak nyaman, dia akan terbang dan terus mencari.

She in the run (sindiran)

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Now Freestlye Rapping -

Ah.. ah.. yaa.. kahar sedang duduk di depan laptop, laptop nya warna biru seperti kuliah gua yang akan selesai di tahun ajaran baru, ah.. ah.. ya

ah.. sekarang disini ada tangga, gue emang empat tahun kuliah tapi akhirnya tetap pakai toga aah.. yaa..

A****G!!!

Lupakan freestlye rap gak penting diatas, karena yang terpenting dalam hidupku saat ini adalah, AKU KULIAH TEPAT 4 TAHUN DAN AKHIRNYA WISUDAAAA!!!!

Setelah dinyatakan "LULUS" pada 21 Oktober 2016 lalu, dengan penantian yang sangat begitu panjang dan melalui banyak rintangan berupa coretan-coretan sampah dari seorang Dosen Pembimbing, akhirnya waktu yang ditunggu datang juga. 

Hanya membutuhkan waktu sebulan lebih untuk menikmati masa kelulusan sebagai seorang Sarjana. tepat di tanggal 23 November 2016, secara afdol, aku menjadi seorang Sarjana dengan memakai toga.

Lulus di waktu yang tepat 4 Tahun itu bangga. Dengan status Mahasiswa yang tidak terlalu pintar dan rajin, yang lebih mementingkan ketikan di blog daripada menyelesaikan ketikan Tugas Akhir, yang suka ngadem di perpustakaan (Tidak meminjam, membaca, atau mencari referensi buku), yang suka nongkrong setelah pulang kuliah, yang tidak pernah belajar sebelum UTS maupun UAS, yang kerjanya hanya mengerjakan Tugas Kuliah ketika satu jam sebelum tugas itu dikumpulkan, itu semua merupakan Mukzizat.

Apalagi, memperoleh IPK 3,16 sudah mencukupi untuk lulus testing berkas ketika melamar kerja, merupakan titik kepuasan bagi seorang Mahasiswa yang kayak aku ini.

Bersama para notulen waktu sidang Tugas Akhir


 
Kiri: Bapak W.A Tambunan, MP (Dosen Penguji). Kanan: Bapak Marshal Arifin Sinaga, SST (Dosen Pembimbing)
"""

Untuk hadir ke wisuda aku, Bou (kakak dari ayah), Mangboru (suami dari kakak ayah), beserta menantu mereka berdua, jauh-jauh datang dari kampung.

Cukup menyedihkan memang, di hari Wisuda-ku, Ayah, salah satu orang yang berjasa dalam mencari nafkah, membesarkan, dan menyekolahkan aku hingga bias memakai Toga untuk yang kedua kalinya setelah TK (dulu), tidak bisa hadir dikarenakan terbaring lemah di rumah sakit.

Hanya ada Mamak, ketiga adikku, Ujing (adik perempuan dari mamak), Tulang (Adik laki-laki dari mamak) yang hadir ke tempat aku Wisuda.


Ga afdol kalo wisuda ga foto beginian


Holla, GILEA!!!
Bersama diantara rekan seperjuangan
Bersama rekan se-per-anjing-an

"""

Kira-kira begitulah ketika aku merayakan hari wisuda. Walaupun sedikit sedih karena ayah tidak bisa hadir, yang penting mereka-mereka yang tetap aku sayangi bisa hadir di wisudaku.

Setelah dari lokasi wisuda, aku termasuk keluarga-keluarga yang datang waktu itu langsung menuju ke Rumah Sakit, untuk melihat ayah.

Sampai di rumah sakit, aku langsung salim ayah sambil meneteskan air mata. “selamat, ya, anakku”. Cuma itu yang keluar dari mulut ayah. Karena belakangan ini ayah memang gabisa banyak bicara karena sakit yang di deritanya.

Hanya ada syukuran kecil-kecilan waktu itu. Kalau bahasa adat kami, upah-upah untuk aku yang sudah wisuda dan ayah yang sakit.

Di tengah-tengah upah-upah, ayah menyampaikan pesan, seperti ini..
“selamat buat anakku yang sudah menyelesaikan kuliahnya selama 4 tahun. Biarpun ayah gak bisa datang, yang penting ini bukan wisuda terakhirmu. Ayah berharap ada lagi wisuda setelah ini. Lanjut S2, ya, nak..”

Suasana syukuran di rumah sakit

 
aku, mamak, dan ayah

Iya, aku sepertinya melanjutkan kuliahku di S2. Sementara teman-teman seperjuangan yang lain sudah ada yang berangkat kerja karena sudah diterima di perusahaan-perusahaan di Kalimantan.

Aku gak dapat izin dari ayah untuk mengikuti test perusahaan karena kondisi ayah yang lagi sakit dan gak bisa ditinggal jauh sama anak sulung nya.

Siap! Insha Allah aku S2…

Jangan tanya apa cita-citaku. Yang penting, aku bisa berkarya dan menjadi apa yang aku inginkan meskipun bukan di bidangku. Jadi, kenapa mau ambil kuliah Perkebunan? Udah terlanjur, lah, itu!!!

Ayo berusaha, berdoa, dan terus berkarya.

Reza Kahar Fahlevi Harahap. SST.



Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
ALLAHUAKBAR!!!

11 hari yang lalu baru aja ngeposting gimana rasanya jadi Mahasiswa yang Hampir Abadi, dan sekarang bau-bau abadi itu hampir tercium ketika aku menyerahkan BAB 4 yang berharap di acc tanpa revisi (lagi). 

Tadi siang, dengan gagahnya aku melangkah ke kampus dengan penuh keyakinan akan membawa lembar persetujuan untuk sidang Tugas Akhir, yang rencananya belum direncanakan kapan akan terlaksana.  Setidaknya  harus yakin! Itu yang penting.

Awalnya, untuk mengerjakan BAB 4 masih bingung mau mulai darimana.  Jangankan niat, niat untuk niat aja gak ada.

Sampai di kampus aku langsung memasuki ruangan Dosen Pembimbing. For Your Information, Dosen Pembimbing ku ini adalah seorang wanita.  salah satu dosen favoritku juga di kampus. Aku gak mau ngasih tau namanya siapa, yang jelas, dia Dosen yang paling di segani di kampus.

Oke, mari kita sebut saja namanya "Diana"

Dan satu lagi,  aku adalah satu-satunya mahasiswa bimbingan-nya yang gak pernah menjumpai dia untuk bimbingan mengenai Tugas Akhir.  Padahal, Bu Diana ini setiap tahunnya selalu mendapat Mahasiswa yang bisa dibilang bandel selama perkuliahan.  Tapi, setelah dibimbing mengenai Tugas Akhir, mahasiswa-mahasiswa yang Hampir Abadi seperti saya tersebut mudah-mudahan berhasil di meja sidang.

"permisi, bu" kataku..

"SUDAH! SILAHKAN KELUAR! SAYA TIDAK MAU BIMBING KAMU LAGI! BERAPA KALI SAYA CARI-CARI KAMU, KAMU SELALU GAK ADA! MAU KAMU APA SEBENARNYA? SAYA ITU MAU MENOLONG KAMU. BUKAN MEMBUNUH."

Sembari dia memarahi aku, ingin rasanya kutempelkan jari telunjuk ku tepat di depan bibirnya sambil berkata "aku itu selalu salah ya, di mata kamu. aku gak kemana-mana, kok.. tetep setia sama kamu"

Mungkin, kalo niat itu aku laksanakan, bu Diana akan berkata "KAU EMANG SALAH KARENA GAK MAU AKU BIMBING, ANJING REZAAAAAA!!!!"

Tapi niat itu aku urungkan.  Selain takut dapat perlakuan seperti perumpamaan diatas, aku juga takut jari telunjukku digigitnya sampai putus, dan aku tidak bisa mengerjakan BAB 4.

Aku cuma bisa diam sambil menundukkan kepala. bukan meratapi kesalahan, tapi siapa tau ada duit jatuh di lantai ruangan bu Diana.

"SUDAH, KAMU KELUAR. NGAPAIN LAGI DISINI? KELUAAAARRRRR!!!" kata bu Diana. 

Bu, aku belum dapat duitnya, boleh aku mencari satu per satu dari sudut ruangan ini? siapa tau dapat.

Sebelum bu Diana meluapkan kemarahannya makin menjadi, dengan menghancurkan semua kaca di ruangannya, lalu mengambil beberapa kepingan dan menggesekkannya di leherku, lebih baik aku pergi meninggalkan ruangannya.

Setelah kejadian yang hampir menumpahkan darah tersebut, aku langsung menuju ke perpustakaan kampus untuk mengerjakan BAB 4.  Dengan niat yang sudah diniatkan berkali-kali, aku mengerjakan BAB 4. 

Dalam waktu 3 hari akhirnya aku berhasil menyelesaikan BAB 4.  Aku yakin, data yang aku kerjakan di BAB 4 sudah lengkap.  Aku kerjakan sesuai Metodologi Penulisan Tugas Akhir yang sudah ditetapkan. 

Sebelum menyerahkan ke bu Diana, aku coba menjumpai beberapa dosen pembimbing mahasiswa yang lain. dari 4 doping yang aku tanya, semuanya bilang udah bagus.  Mungkin penulisannya aja sedikit yang diperbaiki.

Alhamdulillah, sepertinya kalau aku serahkan ke bu Diana langsung, dia akan kagum karena marahnya kemarin, aku jadi berubah.

Segera aku temui bu Diana di ruangannya.

"Permisi, bu.." kataku.

"Ngapain lagi? hah?" kata bu Diana.

jangan, bu, jangan, jangan bunuh aku 
"emmm anu, bu.. aku mau nyerahin BAB 4, bu" kataku dengan penuh ketakutan.

"yaudah, sini saya lihat!" perintah bu Diana.

satu per satu halaman dibuka, dan dilihat dengan serius, ku lihat bu Diana sesekali menganggukkan kepalanya.  Menurut ilmu Psikologi, itu maknanya bagus.  

Sampai halaman terakhir, tidak ada aku lihat bu Diana membuka bajunya tutup pena nya. itu tandanya tidak ada yang direvisi. 

YESSS!!! AKU BERHASIL!

"coba kamu ambilkan dulu minum saya!" perintah bu Diana.

"baik, bu.. akan saya beli minuman ibu dengan duit saya sendiri"

aku langsung berlari menuju kantin dengan bahagianya, sesekali aku moonwalk.

"Permisi, bu.. ini minumnya" kuberikan minuman yang dipesannya tadi

DAAANNNNN... ALANGKAH TERKEJUTNYA AKU MELIHAT BAB 4 YANG SUDAH AKU KIRA TIDAK ADA REVISI TADI.

penampakan yang amat sangat mengoyak hati

 Ya, mau gimana lagi.  emang harus kayak gini.  harus diperbaiki.  Anggap aja ini pembelajaran untuk lebih rajin lagi.  Jadikan aja coretan ini motivasi, ya kan?

YOK, SEMANGAT, ABANG KAHAAAAARRRRR!!!! *hibur diri sendiri*

 


 






Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


Sedang berada di perpustakaan kampus dengan status “MAHASISWA YANG HAMPIR ABADI”. Ditemani beberapa teman yang sedang mengerjakan slide power point untuk sidang Tugas Akhir. Dan aku, cuma ngadem.

Masih ingat beberapa tahun yang lalu, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini. STIPAP (Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan). Kampus yang mau menerima aku sebagai status Calon Mahasiswa yang hampir tidak kuliah dikarenakan tidak lulus di perguruan tinggi manapun sebanyak 6 kali percobaan. 

Sekarang, sudah 4 tahun berlalu. Sudah waktunya seorang mahasiswa mempertanggung jawabkan semuanya di “Meja Sidang”. Layaknya seorang anak laki-laki yang berumur 22 tahun, sudah waktunya memanfaatkan senjatanya yang telah disunat untuk melahirkan seorang Mahasiswa Yang Hampir Abadi juga.

Aku adalah seorang Mahasiswa yang bisa dibilang tidak terlalu aktif dikampus. Dibilang pintar, enggak. Dibilang pintar kali, mungkin iya. KENAPA? GAK SETUJU KALAU AKU ITU PINTAR KALI?

Sudah 8 semester, dengan IPK 3,10 dan itupun sudah termasuk nilai kasihan ditambah nipu-nipu sedikit. Sebenarnya, IPK 3,10 itu adalah IPK 4,00 yang typo.

Teman-teman di kampus sudah mulai maju ke meja sidang satu persatu. Sementara aku masih duduk santai di perustakaan sambil ngadem dan menikmati fasilitas wifi. Tugas Akhir masih sebatas proposal (BAB 1 – 3). Itu juga bisa di acc tanpa revisi. Ya, karena kasihan. Aku termasuk mahasiswa yang terakhir ngajuin proposal ke dosen pembimbing.

Kalau menurut hasil statistik perkuliahan aku di semester 8 ini, hanya dua kali ikut bimbingan Tugas Akhir. Yang pertama, Cuma kebagian 5 menit, kemudian kelas bimbingan selesai. Artinya, aku telat datang. Yang kedua, juga kebagian 5 menit. Lagi-lagi karena telat datang bulan.

Melihat aku yang selalu terlambat, dengan rasa terpaksa dosen pembimbing meng-acc proposal.
Semoga dengan segala keterpaksaan doping tersebut bisa berlanjut sampai aku bisa sidang. Meskipun lulus dan wisuda dengan status TERPAKSA.

Di semester 8 ini, aku merasa benar-benar seperti mahasiswa. Mulai aktif ke perpustakaan untuk mencari sumber data buat Tugas Akhir (selain ngadem dan wifi gratis).

Padahal, selama ini aku biasanya ke perpustakaan hanya untuk membuka pintu perpustakaan, melihat satu persatu sudut ruangan apakah ada mahasiswa yang aku kenal, lalu berteriak (AYOK KE KANTIN!!! SEMUA INI HANYA DUNIA!!!)

Kemudian, aku mulai menjadi penjilat kepada sang pencipta. Mendadak rajin ke mesjid untuk mengadu. Yang biasanya selalu menjawab “titip doa, ya” ketika diajak sholat, kini sudah bisa menerima titipan doa dari teman-teman yang gak mau sholat.

“ya allah, permudahkan urusan Tugas Akhirku. Mengenai titipan doa teman-teman kepadaku, jangan diterima ya allah. Titipan mereka salah alamat”

Begitulah kira-kira doaku.

Berikut adalah ciri-ciri Mahasiswa Hampir Abadi:

Mahasiswa Hampir Abadi biasanya dalam setahun hampir empat kali atau lebih menghadiri wisuda teman-temannya tanpa memikirkan nasib nya sendiri. Itu artinya, sudah berapa bunga yang diberikan kepada mereka-mereka yang sudah wisuda.

Mahasiswa Hampir Abadi biasanya bangga nge-post-ing foto dia bersama temannya wisuda di semua sosial media. Dengan harapan, mereka semua datang juga waktu dia wisuda. Meskipun dengan waktu yang belum ditentukan, bahkan ditargetkan.

Mahasiswa Hampir Abadi biasanya selalu menggunakan caption “semoga cepat nyusul” di instagramnya ketika berfoto dengan teman yang sudah wisuda.

Mahasiswa Hampir Abadi itu kalau wisuda bukan pakai toga. Tapi jas hujan (mantel).

Mahasiswa Hampir Abadi itu sering bertanya “gimana tugas akhirmu?” kepada teman-temannya, dan gak pernah ditanyain balik. Biasanya kalo ditanyain balik, jawabannya cuma “sebentar nya ngerjai itu”.

Nah, yang terakhir, biasanya Mahasiswa Hampir Abadi itu lebih bisa menyiapkan ketikan di blognya daripada ketikan BAB 4 di Tugas Akhirnya.

Semoga Mahasiswa Hampir Abadi ini segera sadar akan statusnya. Mau bagaimanapun, aku juga gak mau mendapatkan gelar sebagai Mahasiswa Hampir Abadi, apalagi harus menjadi Abadi. Ami-amit, ih!

Yaudah, yaudah.. siap postingan blog ini aku post, aku lanjut ngerjain BAB 4.

 
Insya Allah gak abadi

Akhir kata, HIDUP MAHASISWA HAMPIR ABADI!!!


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
“sayang yang kau ucapkan, cinta yang kau katakan, dan rindu yang berulang kali kau ungkapkan, ternyata hanyalah sebuah klise yang terlalu gampang keluar dari mulutmu. Terima kasih, kau adalah pengarang yang mahsyur di era ini”

Malam ini aku senang. Bukan karena dia, tapi lebih kepada apa yang aku dapat selama ini. Kenapa baru malam ini? Iya, karena aku lupa bersyukur kepada dia yang menciptakanku melalui hubungan intim yang dilakukan orang tuaku.

Malam ini aku juga sedih. Bukan karena apa yang aku dapat, melainkan lebih kepada apa yang DIA ucapkan malam ini. Iya, tepat malam ini rasa senang dan sedih saling beradu di dalam hati dan pikiran untuk memperebutkan mahkota kekuasaan oleh sang pemilik rasa.

Gilea, kau menjadi tersangka dalam kedua rasa! Semoga kau tidak melepas hijab. Karena iblis ga mungkin pakai hijab.

Gilea itu wanita baik-baik. Kenapa dia buat aku berantakan? Mungkin karena iblis yang terlalu pacu menggodanya. Dia bukan jahat.

Hidup realistis membuat aku yakin, melepasmu adalah sesuatu keputusan yang amat sangat berat. Mungkin bagimu, melepasku adalah hal yang sangat mudah, dengan apa yang kau ucapkan malam ini. semoga itu bukan kamu, tapi iblis.

“Bentar, buat kopi dulu, biar pait”.

“Oke, kopinya uda siap, jangan tunggu dingin. Entar ditinggalin”.

 ''' 
Gilea..

Berpisah, mungkin keharusan. Kembali, mungkin hanyalah angan. Dan kamu, tetaplah kamu.

Berpisah bukan berarti menghilang. Mungkin hanya sesaat. Hanya untuk saling introspeksi disaksikan iblis yang tertawa lepas melihat masalah ini.

Mengenalmu adalah kesenangan tersendiri bagiku. Perasaan yang mungkin tidak dimiliki pria kurus lainnya seperti aku ketika mengenalmu. Semoga aku bisa gemuk.

Setelah berhari-hari aku mengenalmu, aku jadi sadar, bahwa mencintaimu itu perlu. Dan aku tidak bohong karena aku takut masuk neraka.

Dengan cinta yang aku ungkapkan dan sayang yang aku tunjukkan, aku semakin yakin, bahwa aku adalah manusia yang bebas mengutarakan perasaan. Meski tidak tercantum dalam Undan Undang Dasar 1945.

Setelah aku sayang, aku menjadi egois. Aku terlalu larut dalam kesenangan memilikimu sesaat. Dan berpisah, aku tak rela. Iya, aku egois. Sama seperti iblis.

Sekarang, kita sudah tidak bersama. Perasaan yang kita bangun kini telah dirobohkan oleh sekumpulan genk iblis dari desa terpencil di Jamaika. Mungkin kau tidak perduli, tapi aku hanya ingin menjaga silaturrahmi.

Aku hanya pria kurus yang kuat mengangkat barbel dengan berat 10kg. Tapi aku lemah kalau soal asmara. Apalagi harus berpisah. Tetap aja, harus.

Aku bisa apa? Aku hanya  menikmati ke-berantakan-ku sambil belajar ikhlas. Pelajaran yang sangat sulit dilakukan hamba tuhan. Meski akhirnya, semua akan biasa-biasa saja.

Setelah berulang kali kau pergi dan kembali lagi, aku jadi terbiasa untuk tetap menerimamu kembali. Aku tetap membuka menanti seperti biasanya aku menerimamu kembali.

Mungkin ini hanya emosi kita sesaat, ya.

Apa kamu ada orang baru? Semoga bahagia.
Aku tetap pada kesederhanaan ku. Yang baru dua kali mendapat kue ulang tahun selama 22 tahun ini. Yang kemanapun tetap memakai helm, Kecuali pergi haji (insya allah).  Yang hanya menyendiri di sebuah cafe dengan harga minimum 5 ribu. Yang tidak bisa romantis memberi surprise ulang tahun dengan Balon helium. Yang tidak bisa merayakan ulang tahun di tempat ber-Ac. Yang hanya mampu berbagi tawa meski sedih yang selalu kuterima, dan “YANG TETAP MENYANYANGI KAMU DENGAN KESEDERHANAAN INI”.

Tuhan, terimakasih telah menjadikan dia bagian dari penyemangat hari-hariku. Buat mama nya, makasih uda melahirkan dia, tak terkecuali ayahnya.

-reza kahar, 22 tahun, lagi berantakan, dan 25 maret yang lalu baru ulang tahun.






Share
Tweet
Pin
Share
No comments
            Hei kamu, yang sedang duduk di belakangku.
            Rambutmu kenapa pirang? Sengaja, ya, buat aku kagum? Ah, dasar! Pengen nanya nama kamu, tapi aku malu. Biasa aku gak begini. Kamu hebat, bisa merubah kebiasaan aku.
            Di tempat yang sama, kita uda ketemu tiga kali, loh.. sanger panas minumanku menjadi saksinya. Minuman yang selalu aku pesan ketika aku berjumpa sama kamu. Cuma mata kita yang saling berbicara, menatap malu-malu, seolah-olah kau yang berharap aku menegurmu duluan. Sementara aku berharap kau tidak membuat aku begini. Aku yang tidak pernah malu untuk menegur orang. Tapi sekarang, kau biang keroknya.
            Hari pertama kita jumpa, aku lagi mengerjakan tugas di sebuah café di medan. Aku yang saat itu terlambat datang langsung kau sambut di depan café. Mungkin kau gak merasa, tapi tidak denganku. Hari ini, aku baru tau kau pirang. Sebelumnya, kau pake hijab.
            Kau yang sedang asik bercerita dengan teman cowokmu, membuat aku yakin bahwa dia itu bukan pacarmu. Entah kenapa aku bisa punya keyakinan kayak gitu. Mungkin karena wajah dia yang tidak berbanding lurus denganmu. Begitu juga dengan badannya yang hitam, gendut, dan brewokan. Hampir tidak bisa aku membedakan yang mana manusia dan gorilla.
            Tidak denganmu, aku yang tidak bisa membedakan yang mana manusia dan bidadari. Mungkin tuhan sengaja menurunkan bidadari dari surga ke bumi. Sesekali kulihat kau mengisap sebatang rokok. Di surga gak ada rokok? Apa kau turun ke bumi Cuma untuk beli rokok? Atau kau turun ke bumi Cuma untuk merubah kebiasaan aku? Ah, kau kece sekali.
            Selama dua jam aku duduk di café itu, aku selalu curi-curi pandang ke teman cowokmu yang seperti gorilla itu kau yang seperti bidadari. Tapi kita tak kunjung saling berbicara.
            Aku pulang, dengan membawa kebiasaan baruku. Aku gak tau namamu, kuliahmu, ukuran celana dalammu, apalagi isinya.
            Aku hapal mati gimana bentuk wajahmu. Aku hanya berharap, aku menemukanmu di explore instagram. Ah, mana mungkin cewek kece kayak kau tidak punya instagram. Itu mustahil. Aku yakin.
            Selama sebulan lebih ketika aku pertama berjumpa denganmu, kerjaanku selalu stalker explore instagram di akunku. Aku tau itu susah, tapi aku gak mau berhenti berusaha. Mungkin kalian menilai aku cowok yang bodoh dan gak gentleman. “kenapa gak tanyak aja langsung namanya?” pasti kalian bertanya seperti itu. Aku Cuma bisa menjawab, “DIA YANG BUAT AKU GAK BISA BERTANYA SEPERTI ITU!!!”
            Sebulan berlalu,  tanpa sengaja aku kembali datang di tempat yang menjadi saksi kita berjumpa pertama kali. Sanger panas yang juga menjadi saksi juga gak mau ketinggalan. Dengan begitu, mereka juga akan menjadi saksi ketika aku berhasil mengetahui siapa namamu dan dimana kuliahmu.
            Tiba-tiba, kau datang lagi. Sekarang kau datang berdua dengan teman cewekmu. Aku gak tau, apakah temanmu yg cowok kemaren itu memang sudah ganti kelamin atau tidak. Kenapa aku berpikiran kayak gitu? Ya.. karena mukanya gak jauh beda sama teman cowokmu kemaren. Badannya gendut, hitam, tapi tidak brewokan. Sekarang, wajah temanmu yg cewek itu seperti bidadari yang diturunkan tuhan dari surga, tapi, dengan kepalanya yang duluan mendarat di bumi.
            Di meja yang berbeda namun dengan posisi yang sama seperti kemaren. Wajah kita berpapasan. Kiblatku memang gak pernah salah. Kau kece!
            Lagi, lagi, dan lagi. Aku belum berani untuk mengajak kamu berbicara. Mau mu apa? Apa kau mau aku terus-terusan mencari kamu di explore instagram? Fine! Aku siap!
            Aku selalu curi-curi pandang denganmu. Kau juga demikian. Tapi kenapa kita tidak bisa berbicara? Susah rasanya. Seakan-akan tuhan hanya menciptakan mata itu untuk berbicara. Padahal tidak.
            “aku pulang duluan, ya,” mataku yang berbicara. Tatapan matamu yang hanya sekilas memandangku ketika aku beranjak pergi seakan berbicara “iya, hati-hati. Goodluck buat mencari aku di explore instagram mu”
            Setelah itu, aku kembali pada kebiasaanku yang kau buat. Mencari, mencari, dan terus mencarimu di explore instagram. Aku belum menyerah. Aku menyanggupi tantangan yang kau buat melalui tatapan matamu kemarin. Ah, kau kece!
            Dan sekarang, ketika cerita di blog ini aku tulis, di tempat yang sama, dengan sanger panas yang juga gak pernah absen diatas meja ini, aku kembali berjumpa denganmu. Kali ini, kau gak pake hijab. Rambutmu pirang. Kemana hijabmu? Ah, kau kece!
            Sekarang posisimu di belakangku. Kau menghadap aku yang sedang membelakangimu. Kali ini mata kita sulit untuk berbicara. Mungkin, hanya matamu yang berbicara kepadaku seakan berkata “gimana? Uda ketemu aku di explore? Atau kamu uda nyerah? “
            Oke, kali ini aku coba mengetahui namamu langsung dari mulutmu. Sepertinya, ini hari terakhir aku buat mencari kamu di explore instagram. Aku akan kembali pada kebiasaanku yang gak pernah malu untuk negur orang duluan.




SUDAH!!! NANTI AKU LANJUT KALO UDA TAU NAMANYA, YA!!!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Nengok - Nengok

YANG PUNYA



Komposisi: Tulang, Daging, Nyawa, dan Nama!



SAYA DI TEMPAT YANG LAIN

  • instagram
  • youtube
  • twitter

recent posts

Blog Archive

  • June 2022 (1)
  • December 2021 (1)
  • March 2020 (1)
  • September 2019 (1)
  • June 2018 (3)
  • January 2017 (1)
  • December 2016 (2)
  • September 2016 (2)
  • May 2016 (1)
  • November 2015 (3)
  • November 2014 (1)
  • September 2014 (1)
  • July 2014 (1)
  • June 2014 (1)
  • March 2014 (2)
  • December 2013 (1)
  • August 2013 (1)
  • July 2013 (1)
  • June 2013 (1)
  • May 2013 (1)
  • April 2013 (2)
  • March 2013 (4)
  • February 2013 (3)
  • January 2013 (2)
  • December 2012 (3)
  • November 2012 (2)
  • October 2012 (1)
  • September 2012 (1)

Created with by ThemeXpose