• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
twitter instagram

SUKA-NGAYAL

written by reza kahar

ALLAHUAKBAR!!!

11 hari yang lalu baru aja ngeposting gimana rasanya jadi Mahasiswa yang Hampir Abadi, dan sekarang bau-bau abadi itu hampir tercium ketika aku menyerahkan BAB 4 yang berharap di acc tanpa revisi (lagi). 

Tadi siang, dengan gagahnya aku melangkah ke kampus dengan penuh keyakinan akan membawa lembar persetujuan untuk sidang Tugas Akhir, yang rencananya belum direncanakan kapan akan terlaksana.  Setidaknya  harus yakin! Itu yang penting.

Awalnya, untuk mengerjakan BAB 4 masih bingung mau mulai darimana.  Jangankan niat, niat untuk niat aja gak ada.

Sampai di kampus aku langsung memasuki ruangan Dosen Pembimbing. For Your Information, Dosen Pembimbing ku ini adalah seorang wanita.  salah satu dosen favoritku juga di kampus. Aku gak mau ngasih tau namanya siapa, yang jelas, dia Dosen yang paling di segani di kampus.

Oke, mari kita sebut saja namanya "Diana"

Dan satu lagi,  aku adalah satu-satunya mahasiswa bimbingan-nya yang gak pernah menjumpai dia untuk bimbingan mengenai Tugas Akhir.  Padahal, Bu Diana ini setiap tahunnya selalu mendapat Mahasiswa yang bisa dibilang bandel selama perkuliahan.  Tapi, setelah dibimbing mengenai Tugas Akhir, mahasiswa-mahasiswa yang Hampir Abadi seperti saya tersebut mudah-mudahan berhasil di meja sidang.

"permisi, bu" kataku..

"SUDAH! SILAHKAN KELUAR! SAYA TIDAK MAU BIMBING KAMU LAGI! BERAPA KALI SAYA CARI-CARI KAMU, KAMU SELALU GAK ADA! MAU KAMU APA SEBENARNYA? SAYA ITU MAU MENOLONG KAMU. BUKAN MEMBUNUH."

Sembari dia memarahi aku, ingin rasanya kutempelkan jari telunjuk ku tepat di depan bibirnya sambil berkata "aku itu selalu salah ya, di mata kamu. aku gak kemana-mana, kok.. tetep setia sama kamu"

Mungkin, kalo niat itu aku laksanakan, bu Diana akan berkata "KAU EMANG SALAH KARENA GAK MAU AKU BIMBING, ANJING REZAAAAAA!!!!"

Tapi niat itu aku urungkan.  Selain takut dapat perlakuan seperti perumpamaan diatas, aku juga takut jari telunjukku digigitnya sampai putus, dan aku tidak bisa mengerjakan BAB 4.

Aku cuma bisa diam sambil menundukkan kepala. bukan meratapi kesalahan, tapi siapa tau ada duit jatuh di lantai ruangan bu Diana.

"SUDAH, KAMU KELUAR. NGAPAIN LAGI DISINI? KELUAAAARRRRR!!!" kata bu Diana. 

Bu, aku belum dapat duitnya, boleh aku mencari satu per satu dari sudut ruangan ini? siapa tau dapat.

Sebelum bu Diana meluapkan kemarahannya makin menjadi, dengan menghancurkan semua kaca di ruangannya, lalu mengambil beberapa kepingan dan menggesekkannya di leherku, lebih baik aku pergi meninggalkan ruangannya.

Setelah kejadian yang hampir menumpahkan darah tersebut, aku langsung menuju ke perpustakaan kampus untuk mengerjakan BAB 4.  Dengan niat yang sudah diniatkan berkali-kali, aku mengerjakan BAB 4. 

Dalam waktu 3 hari akhirnya aku berhasil menyelesaikan BAB 4.  Aku yakin, data yang aku kerjakan di BAB 4 sudah lengkap.  Aku kerjakan sesuai Metodologi Penulisan Tugas Akhir yang sudah ditetapkan. 

Sebelum menyerahkan ke bu Diana, aku coba menjumpai beberapa dosen pembimbing mahasiswa yang lain. dari 4 doping yang aku tanya, semuanya bilang udah bagus.  Mungkin penulisannya aja sedikit yang diperbaiki.

Alhamdulillah, sepertinya kalau aku serahkan ke bu Diana langsung, dia akan kagum karena marahnya kemarin, aku jadi berubah.

Segera aku temui bu Diana di ruangannya.

"Permisi, bu.." kataku.

"Ngapain lagi? hah?" kata bu Diana.

jangan, bu, jangan, jangan bunuh aku 
"emmm anu, bu.. aku mau nyerahin BAB 4, bu" kataku dengan penuh ketakutan.

"yaudah, sini saya lihat!" perintah bu Diana.

satu per satu halaman dibuka, dan dilihat dengan serius, ku lihat bu Diana sesekali menganggukkan kepalanya.  Menurut ilmu Psikologi, itu maknanya bagus.  

Sampai halaman terakhir, tidak ada aku lihat bu Diana membuka bajunya tutup pena nya. itu tandanya tidak ada yang direvisi. 

YESSS!!! AKU BERHASIL!

"coba kamu ambilkan dulu minum saya!" perintah bu Diana.

"baik, bu.. akan saya beli minuman ibu dengan duit saya sendiri"

aku langsung berlari menuju kantin dengan bahagianya, sesekali aku moonwalk.

"Permisi, bu.. ini minumnya" kuberikan minuman yang dipesannya tadi

DAAANNNNN... ALANGKAH TERKEJUTNYA AKU MELIHAT BAB 4 YANG SUDAH AKU KIRA TIDAK ADA REVISI TADI.

penampakan yang amat sangat mengoyak hati

 Ya, mau gimana lagi.  emang harus kayak gini.  harus diperbaiki.  Anggap aja ini pembelajaran untuk lebih rajin lagi.  Jadikan aja coretan ini motivasi, ya kan?

YOK, SEMANGAT, ABANG KAHAAAAARRRRR!!!! *hibur diri sendiri*

 


 






Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


Sedang berada di perpustakaan kampus dengan status “MAHASISWA YANG HAMPIR ABADI”. Ditemani beberapa teman yang sedang mengerjakan slide power point untuk sidang Tugas Akhir. Dan aku, cuma ngadem.

Masih ingat beberapa tahun yang lalu, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini. STIPAP (Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan). Kampus yang mau menerima aku sebagai status Calon Mahasiswa yang hampir tidak kuliah dikarenakan tidak lulus di perguruan tinggi manapun sebanyak 6 kali percobaan. 

Sekarang, sudah 4 tahun berlalu. Sudah waktunya seorang mahasiswa mempertanggung jawabkan semuanya di “Meja Sidang”. Layaknya seorang anak laki-laki yang berumur 22 tahun, sudah waktunya memanfaatkan senjatanya yang telah disunat untuk melahirkan seorang Mahasiswa Yang Hampir Abadi juga.

Aku adalah seorang Mahasiswa yang bisa dibilang tidak terlalu aktif dikampus. Dibilang pintar, enggak. Dibilang pintar kali, mungkin iya. KENAPA? GAK SETUJU KALAU AKU ITU PINTAR KALI?

Sudah 8 semester, dengan IPK 3,10 dan itupun sudah termasuk nilai kasihan ditambah nipu-nipu sedikit. Sebenarnya, IPK 3,10 itu adalah IPK 4,00 yang typo.

Teman-teman di kampus sudah mulai maju ke meja sidang satu persatu. Sementara aku masih duduk santai di perustakaan sambil ngadem dan menikmati fasilitas wifi. Tugas Akhir masih sebatas proposal (BAB 1 – 3). Itu juga bisa di acc tanpa revisi. Ya, karena kasihan. Aku termasuk mahasiswa yang terakhir ngajuin proposal ke dosen pembimbing.

Kalau menurut hasil statistik perkuliahan aku di semester 8 ini, hanya dua kali ikut bimbingan Tugas Akhir. Yang pertama, Cuma kebagian 5 menit, kemudian kelas bimbingan selesai. Artinya, aku telat datang. Yang kedua, juga kebagian 5 menit. Lagi-lagi karena telat datang bulan.

Melihat aku yang selalu terlambat, dengan rasa terpaksa dosen pembimbing meng-acc proposal.
Semoga dengan segala keterpaksaan doping tersebut bisa berlanjut sampai aku bisa sidang. Meskipun lulus dan wisuda dengan status TERPAKSA.

Di semester 8 ini, aku merasa benar-benar seperti mahasiswa. Mulai aktif ke perpustakaan untuk mencari sumber data buat Tugas Akhir (selain ngadem dan wifi gratis).

Padahal, selama ini aku biasanya ke perpustakaan hanya untuk membuka pintu perpustakaan, melihat satu persatu sudut ruangan apakah ada mahasiswa yang aku kenal, lalu berteriak (AYOK KE KANTIN!!! SEMUA INI HANYA DUNIA!!!)

Kemudian, aku mulai menjadi penjilat kepada sang pencipta. Mendadak rajin ke mesjid untuk mengadu. Yang biasanya selalu menjawab “titip doa, ya” ketika diajak sholat, kini sudah bisa menerima titipan doa dari teman-teman yang gak mau sholat.

“ya allah, permudahkan urusan Tugas Akhirku. Mengenai titipan doa teman-teman kepadaku, jangan diterima ya allah. Titipan mereka salah alamat”

Begitulah kira-kira doaku.

Berikut adalah ciri-ciri Mahasiswa Hampir Abadi:

Mahasiswa Hampir Abadi biasanya dalam setahun hampir empat kali atau lebih menghadiri wisuda teman-temannya tanpa memikirkan nasib nya sendiri. Itu artinya, sudah berapa bunga yang diberikan kepada mereka-mereka yang sudah wisuda.

Mahasiswa Hampir Abadi biasanya bangga nge-post-ing foto dia bersama temannya wisuda di semua sosial media. Dengan harapan, mereka semua datang juga waktu dia wisuda. Meskipun dengan waktu yang belum ditentukan, bahkan ditargetkan.

Mahasiswa Hampir Abadi biasanya selalu menggunakan caption “semoga cepat nyusul” di instagramnya ketika berfoto dengan teman yang sudah wisuda.

Mahasiswa Hampir Abadi itu kalau wisuda bukan pakai toga. Tapi jas hujan (mantel).

Mahasiswa Hampir Abadi itu sering bertanya “gimana tugas akhirmu?” kepada teman-temannya, dan gak pernah ditanyain balik. Biasanya kalo ditanyain balik, jawabannya cuma “sebentar nya ngerjai itu”.

Nah, yang terakhir, biasanya Mahasiswa Hampir Abadi itu lebih bisa menyiapkan ketikan di blognya daripada ketikan BAB 4 di Tugas Akhirnya.

Semoga Mahasiswa Hampir Abadi ini segera sadar akan statusnya. Mau bagaimanapun, aku juga gak mau mendapatkan gelar sebagai Mahasiswa Hampir Abadi, apalagi harus menjadi Abadi. Ami-amit, ih!

Yaudah, yaudah.. siap postingan blog ini aku post, aku lanjut ngerjain BAB 4.

 
Insya Allah gak abadi

Akhir kata, HIDUP MAHASISWA HAMPIR ABADI!!!


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
“sayang yang kau ucapkan, cinta yang kau katakan, dan rindu yang berulang kali kau ungkapkan, ternyata hanyalah sebuah klise yang terlalu gampang keluar dari mulutmu. Terima kasih, kau adalah pengarang yang mahsyur di era ini”

Malam ini aku senang. Bukan karena dia, tapi lebih kepada apa yang aku dapat selama ini. Kenapa baru malam ini? Iya, karena aku lupa bersyukur kepada dia yang menciptakanku melalui hubungan intim yang dilakukan orang tuaku.

Malam ini aku juga sedih. Bukan karena apa yang aku dapat, melainkan lebih kepada apa yang DIA ucapkan malam ini. Iya, tepat malam ini rasa senang dan sedih saling beradu di dalam hati dan pikiran untuk memperebutkan mahkota kekuasaan oleh sang pemilik rasa.

Gilea, kau menjadi tersangka dalam kedua rasa! Semoga kau tidak melepas hijab. Karena iblis ga mungkin pakai hijab.

Gilea itu wanita baik-baik. Kenapa dia buat aku berantakan? Mungkin karena iblis yang terlalu pacu menggodanya. Dia bukan jahat.

Hidup realistis membuat aku yakin, melepasmu adalah sesuatu keputusan yang amat sangat berat. Mungkin bagimu, melepasku adalah hal yang sangat mudah, dengan apa yang kau ucapkan malam ini. semoga itu bukan kamu, tapi iblis.

“Bentar, buat kopi dulu, biar pait”.

“Oke, kopinya uda siap, jangan tunggu dingin. Entar ditinggalin”.

 ''' 
Gilea..

Berpisah, mungkin keharusan. Kembali, mungkin hanyalah angan. Dan kamu, tetaplah kamu.

Berpisah bukan berarti menghilang. Mungkin hanya sesaat. Hanya untuk saling introspeksi disaksikan iblis yang tertawa lepas melihat masalah ini.

Mengenalmu adalah kesenangan tersendiri bagiku. Perasaan yang mungkin tidak dimiliki pria kurus lainnya seperti aku ketika mengenalmu. Semoga aku bisa gemuk.

Setelah berhari-hari aku mengenalmu, aku jadi sadar, bahwa mencintaimu itu perlu. Dan aku tidak bohong karena aku takut masuk neraka.

Dengan cinta yang aku ungkapkan dan sayang yang aku tunjukkan, aku semakin yakin, bahwa aku adalah manusia yang bebas mengutarakan perasaan. Meski tidak tercantum dalam Undan Undang Dasar 1945.

Setelah aku sayang, aku menjadi egois. Aku terlalu larut dalam kesenangan memilikimu sesaat. Dan berpisah, aku tak rela. Iya, aku egois. Sama seperti iblis.

Sekarang, kita sudah tidak bersama. Perasaan yang kita bangun kini telah dirobohkan oleh sekumpulan genk iblis dari desa terpencil di Jamaika. Mungkin kau tidak perduli, tapi aku hanya ingin menjaga silaturrahmi.

Aku hanya pria kurus yang kuat mengangkat barbel dengan berat 10kg. Tapi aku lemah kalau soal asmara. Apalagi harus berpisah. Tetap aja, harus.

Aku bisa apa? Aku hanya  menikmati ke-berantakan-ku sambil belajar ikhlas. Pelajaran yang sangat sulit dilakukan hamba tuhan. Meski akhirnya, semua akan biasa-biasa saja.

Setelah berulang kali kau pergi dan kembali lagi, aku jadi terbiasa untuk tetap menerimamu kembali. Aku tetap membuka menanti seperti biasanya aku menerimamu kembali.

Mungkin ini hanya emosi kita sesaat, ya.

Apa kamu ada orang baru? Semoga bahagia.
Aku tetap pada kesederhanaan ku. Yang baru dua kali mendapat kue ulang tahun selama 22 tahun ini. Yang kemanapun tetap memakai helm, Kecuali pergi haji (insya allah).  Yang hanya menyendiri di sebuah cafe dengan harga minimum 5 ribu. Yang tidak bisa romantis memberi surprise ulang tahun dengan Balon helium. Yang tidak bisa merayakan ulang tahun di tempat ber-Ac. Yang hanya mampu berbagi tawa meski sedih yang selalu kuterima, dan “YANG TETAP MENYANYANGI KAMU DENGAN KESEDERHANAAN INI”.

Tuhan, terimakasih telah menjadikan dia bagian dari penyemangat hari-hariku. Buat mama nya, makasih uda melahirkan dia, tak terkecuali ayahnya.

-reza kahar, 22 tahun, lagi berantakan, dan 25 maret yang lalu baru ulang tahun.






Share
Tweet
Pin
Share
No comments
            Hei kamu, yang sedang duduk di belakangku.
            Rambutmu kenapa pirang? Sengaja, ya, buat aku kagum? Ah, dasar! Pengen nanya nama kamu, tapi aku malu. Biasa aku gak begini. Kamu hebat, bisa merubah kebiasaan aku.
            Di tempat yang sama, kita uda ketemu tiga kali, loh.. sanger panas minumanku menjadi saksinya. Minuman yang selalu aku pesan ketika aku berjumpa sama kamu. Cuma mata kita yang saling berbicara, menatap malu-malu, seolah-olah kau yang berharap aku menegurmu duluan. Sementara aku berharap kau tidak membuat aku begini. Aku yang tidak pernah malu untuk menegur orang. Tapi sekarang, kau biang keroknya.
            Hari pertama kita jumpa, aku lagi mengerjakan tugas di sebuah café di medan. Aku yang saat itu terlambat datang langsung kau sambut di depan café. Mungkin kau gak merasa, tapi tidak denganku. Hari ini, aku baru tau kau pirang. Sebelumnya, kau pake hijab.
            Kau yang sedang asik bercerita dengan teman cowokmu, membuat aku yakin bahwa dia itu bukan pacarmu. Entah kenapa aku bisa punya keyakinan kayak gitu. Mungkin karena wajah dia yang tidak berbanding lurus denganmu. Begitu juga dengan badannya yang hitam, gendut, dan brewokan. Hampir tidak bisa aku membedakan yang mana manusia dan gorilla.
            Tidak denganmu, aku yang tidak bisa membedakan yang mana manusia dan bidadari. Mungkin tuhan sengaja menurunkan bidadari dari surga ke bumi. Sesekali kulihat kau mengisap sebatang rokok. Di surga gak ada rokok? Apa kau turun ke bumi Cuma untuk beli rokok? Atau kau turun ke bumi Cuma untuk merubah kebiasaan aku? Ah, kau kece sekali.
            Selama dua jam aku duduk di café itu, aku selalu curi-curi pandang ke teman cowokmu yang seperti gorilla itu kau yang seperti bidadari. Tapi kita tak kunjung saling berbicara.
            Aku pulang, dengan membawa kebiasaan baruku. Aku gak tau namamu, kuliahmu, ukuran celana dalammu, apalagi isinya.
            Aku hapal mati gimana bentuk wajahmu. Aku hanya berharap, aku menemukanmu di explore instagram. Ah, mana mungkin cewek kece kayak kau tidak punya instagram. Itu mustahil. Aku yakin.
            Selama sebulan lebih ketika aku pertama berjumpa denganmu, kerjaanku selalu stalker explore instagram di akunku. Aku tau itu susah, tapi aku gak mau berhenti berusaha. Mungkin kalian menilai aku cowok yang bodoh dan gak gentleman. “kenapa gak tanyak aja langsung namanya?” pasti kalian bertanya seperti itu. Aku Cuma bisa menjawab, “DIA YANG BUAT AKU GAK BISA BERTANYA SEPERTI ITU!!!”
            Sebulan berlalu,  tanpa sengaja aku kembali datang di tempat yang menjadi saksi kita berjumpa pertama kali. Sanger panas yang juga menjadi saksi juga gak mau ketinggalan. Dengan begitu, mereka juga akan menjadi saksi ketika aku berhasil mengetahui siapa namamu dan dimana kuliahmu.
            Tiba-tiba, kau datang lagi. Sekarang kau datang berdua dengan teman cewekmu. Aku gak tau, apakah temanmu yg cowok kemaren itu memang sudah ganti kelamin atau tidak. Kenapa aku berpikiran kayak gitu? Ya.. karena mukanya gak jauh beda sama teman cowokmu kemaren. Badannya gendut, hitam, tapi tidak brewokan. Sekarang, wajah temanmu yg cewek itu seperti bidadari yang diturunkan tuhan dari surga, tapi, dengan kepalanya yang duluan mendarat di bumi.
            Di meja yang berbeda namun dengan posisi yang sama seperti kemaren. Wajah kita berpapasan. Kiblatku memang gak pernah salah. Kau kece!
            Lagi, lagi, dan lagi. Aku belum berani untuk mengajak kamu berbicara. Mau mu apa? Apa kau mau aku terus-terusan mencari kamu di explore instagram? Fine! Aku siap!
            Aku selalu curi-curi pandang denganmu. Kau juga demikian. Tapi kenapa kita tidak bisa berbicara? Susah rasanya. Seakan-akan tuhan hanya menciptakan mata itu untuk berbicara. Padahal tidak.
            “aku pulang duluan, ya,” mataku yang berbicara. Tatapan matamu yang hanya sekilas memandangku ketika aku beranjak pergi seakan berbicara “iya, hati-hati. Goodluck buat mencari aku di explore instagram mu”
            Setelah itu, aku kembali pada kebiasaanku yang kau buat. Mencari, mencari, dan terus mencarimu di explore instagram. Aku belum menyerah. Aku menyanggupi tantangan yang kau buat melalui tatapan matamu kemarin. Ah, kau kece!
            Dan sekarang, ketika cerita di blog ini aku tulis, di tempat yang sama, dengan sanger panas yang juga gak pernah absen diatas meja ini, aku kembali berjumpa denganmu. Kali ini, kau gak pake hijab. Rambutmu pirang. Kemana hijabmu? Ah, kau kece!
            Sekarang posisimu di belakangku. Kau menghadap aku yang sedang membelakangimu. Kali ini mata kita sulit untuk berbicara. Mungkin, hanya matamu yang berbicara kepadaku seakan berkata “gimana? Uda ketemu aku di explore? Atau kamu uda nyerah? “
            Oke, kali ini aku coba mengetahui namamu langsung dari mulutmu. Sepertinya, ini hari terakhir aku buat mencari kamu di explore instagram. Aku akan kembali pada kebiasaanku yang gak pernah malu untuk negur orang duluan.




SUDAH!!! NANTI AKU LANJUT KALO UDA TAU NAMANYA, YA!!!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Lagi duduk di salah satu cafe di Medan sambil menyedu segelas sanger panas minuman favoritku, aku kembali melanjutkan cerita dari “Gilea, aku senang!”.  Butuh ketegaran hati untuk melanjutkan cerita ini.

Aku berlindung kepada Allah, dari cerita mantan yang terkutuk.

Dengan menyebut nama mantan, yang maha bikin nyesek dan maha bikin sakit hati.

Siang itu, tanggal 31 Oktober 2015, aku lagi pulas dalam tidur siangku. Tiba-tiba ada telfon masuk. Lalu telfon nya aku suruh keluar. Soalnya masuknya gak pakek Assalamualaikum. Kenapa jadi absurd gini? Ah, sial!

Telfon ada yang manggil. Dari siapa? Jelas, dari si pawang buaya. Telfon nya aku angkat.

“hallo” (gak ada jawaban)

“hallo” (tetap gak ada jawaban)

“woy halloooooo!!!!” (gak ada jawaban juga)

Pantesan.. telfon nya cuma aku angkat doang. Tombol “jawab” nya gak aku pencet. Maklumin aja, namanya juga ngantuk. Orang ngantuk gak pernah salah. Yang salah itu ngucapin selamat tidur ke pacar orang. Titik.

*pencet tombol jawab di handphone”

“hallo, yng” kataku.

“iya yng.. kamu lagi apa? Aku mau berangkat ini ya ke Siantar”

“baru bangun tidur siang ini yng. Iya yng, kamu hati-hati, ya”

“iya sayang. Kamu jangan lupa makan, ya”

“iya yng, ini mau makan”

“oh yauda yng, makan lah dulu. Nanti aku telfon lagi, ya”

“oke, yng”

“jangan gak makan. Nanti aku marah!!!”

*telfon ditutup. Takut masuk angin. Takut dimakan kucing juga*

Karena aku sayang, aku nurut perintah dia. Takut dia marah. Takut liat mukanya. Cewek kalo marah itu mukanya jelek. Tapi lebih jelek lagi kalo cewek itu nguapnya ditahan-tahan.

Aku kumpulkan tenagaku untuk bangkit dari tempat tidur, lalu aku beranjak membuka pintu kamar, aku pergi ke dapur, sampek di dapur, AKU TIDUR SIANG LAGI. Gilea marah? Silahkan aja. Aku tetap sayang.

10 menit kemudian, Gilea nelfon lagi.

“hallo.. uda jadi makan nya?”

“aku gak mau makan. Kamu jahat!” aku bilang ke dia dengan intonasi agak kuat.

“loh kamu kenapa yng? Aku jahat kenapa?” dia nanya heran.

“kamu tega, ya, ngingatin aku jangan lupa makan, tapi kamu gak ngingatin aku jangan lupa minum. Ha?! Sanggup kamu?! Tega?! Iya?! Mau aku mati keselek?!” aku marah. Padahal becanda.

“ya allah yng.. yauda.. kamu jangan lupa makan, jangan lupa minum, jangan lupa cuci piring, jangan lupa berak kalo uda sesak, jangan lupa disiram taiknya, jangan lupa cebok, dan… JANGAN LUPAIN AKU, YA?!!!” kata dia dengan nada yang agak di tekankan.

“hahaha, yauda yng, siap!!!”

“love you”

“love you too”

*telfon ditutup. Aurat juga ditutup. Dosa kalo dibuka*

Sore itu, sudah menunjukkan pukul 16.60 WIB. Sebagaimana keseharian ku kalo lagi di rumah, jam segitu aku wajib mandi. Bukan mandi wajib ya! Ingat, wajib mandi!!! Karena aku gak habis mimpi basah.

Niat nya pengen sms dia. Kalo di-line, hp nya Gilea lagi rusak. Konon katanya, hp Gilea rusak karena pergaulan yang terlalu bebas dan kurang perhatian dari orang tua. Rusak!

Tapi, nanti aja. Mandi wajib dulu.

Selesai mandi, aku langsung sms dia. Pengen nanya aja uda sampek mana dia sekarang.

“yng, uda dimana?”

“masih di hatimu loh yng. Gak kemana-mana”

            Wait.. sebenarnya jawaban kayak gitu norak kali. Sama noraknya kayak ditanya “lagi ngapain?” dan jawabannya “lagi mikirin kamu.” Tapi, karena dia itu Gilea, aku sayang. Aku senang.

            “oh yauda, ntar kalo uda sampek, kirim salam sama mama kamu, ya..”

            *gak dibales*

            Oke, mungkin dia habis pulsa. Biarkan aja. Oke, aku cari kesibukan lain sembari menunggu dia sampe di tujuan.

            3 jam berlalu, sms belum juga dibales. Telfon ku juga gak diangkat. Gilea, kamu dimana? Kenapa sms ku gak dibales? Telfon ku juga gak diangkat? Aaarrggghhh..

            Malamnya, aku telfon lagi. Nyambung. Dan ada yang ngangkat.

            “hallo” kataku

            “Gilea nya lagi sholat , ja”

            “oh yauda kak, ntar aku telfon lagi”

            Yang nerima telfon rupanya bukan dia. Tapi kakaknya. Syukur, lah, muadzin dekat rumahnya berhasil memanggil dia untuk sholat.

            15 menit kemudian, aku telfon dia lagi. Gak diangkat. Berkali-kali ku coba, tetap gak diangkat juga. Sesekali, nomornya sibuk. Sesekali lagi, nomornya gak aktif. Gilea kamu kemana? Apa kamu masih sholat dan belum siap juga? Sholat apa kamu? Taraweh? Ah lama kali kalo sholat aja. Kamu dimana, sih? Aku kecarian.

            Waktu sudah lama berlalu. Gilea tiba-tiba menghilang. Aku berbaring di kamar, merebahkan badan, sesekali aku check hp, tapi tetap aja kabar dari Gilea nihil.

            Di situasi kayak gini, aku kebingungan. Kenapa dia diemin aku tiba-tiba. Padahal sebelumnya kami gak ada masalah apa-apa. Berkali-kali aku coba telfon dia, tetap gak diangkat juga. Padahal nomor nya aktif. Ah, Gilea! Kamu mulai buat aku berantakan.

            Satu hari berlalu tanpa kabar dari dia. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Perasaan bersalah selalu muncul. Aku berpikir, apa mungkin dia udah bosan? Atau dia mulai jenuh? Atau dia kayak gini karena aku berbuat salah? Ah.. tapi gak mungkin. Sebelumnya kami baik-baik aja. Dan ini terjadi secara tiba-tiba. Gilea, kamu dimana? Aku mulai berantakan.

            Hari kedua juga sudah berlalu. Sudah dua hari Gilea tanpa kabar. Aku gak tau dia dimana. Aku juga bingung, nomornya masih aktif tapi gak ada yang ngangkat juga kalo aku telfon. Aku gak pernah bosan, aku terus telfon dia. Tapi tetap aja gak ada jawaban. Gilea, kamu dimana? Aku hampir berantakan.

            Di hari ketiga, aku coba datang ke rumah dia. Pagi sekali, aku uda berada di rumahnya, aku panggil dia.

            “Gileaa.. assalamualaikum..” kataku dari depan pagar rumahnya.

            “assalamualaikum.. Gileaaa” aku coba terus panggil dia. Kali ini dari belakang pagarnya. Siapa tau dia jawab.

            Tapi tetap aja, nihil. Waktu aku panggil-panggil, Rumahnya gak ada yang ngangkat gak ada orang. Seperti tidak ada tanda kehidupan. Atau mereka belum balik dari Siantar. Aku gak tau. Yang aku tau, sekarang aku kecarian Gilea.

            Aku pulang dengan membawa perasaan kebingungan. Aku bingung salahku apa. Bagiku gak masalah kalo dia minta putus asal dengan alasan yang jelas. Tapi nyatanya, aku dikacangin. Lebih baik aku jadi caleg DPR yang fotonya selalu dikacangin sama orang-orang yang melintas. Sekalipun di foto itu mereka selalu tersenyum dengan gayanya masing-masing.

Hari ke empat, sama kayak hari-hari sebelumnya. Sama-sama hampa.

Sampai di hari ke lima, aku coba telfon dia lagi. Nomornya gak aktif. Operatornya ngomong “nomor yang anda tuju sedang tidak memperdulikan anda, atau berada diluar pikiran anda.” Mungkin operatornya sudah mulai lelah karena aku telfon terus. Makanya operatornya ngomong kayak gitu. Hem…

Malam harinya ada sms masuk dari si pawang buaya. Isinya…

“Kamu gak salah apa-apa, kok. Ini salah aku. Mungkin cara aku yang buat kamu sedih dan kecarian. Tapi aku kayak gini bukan tanpa alasan. Ada sesuatu hal yang gak bisa aku ceritakan tapi harus dimengerti. Kamu jangan sakit-sakit, ya. Aku gak mau buat kamu sedih. Kamu semangat kuliahnya. Bentar lagi tamat kan? Goodluck, pelawak hatiku.”

        Sebelum aku bales sms dia, mari kita bahas satu persatu point isi sms dia.

  • ·        Kamu gak salah apa-apa: berarti aku gak salah? Terus kenapa diginiin?

  • ·        Ini salah aku : oke, ini salah dia. Aku setuju. Kalo dia salah, kenapa gak minta maaf?

  • ·        Mungkin cara aku yang buat kamu sedih dan kecarian           : iya, ini cara kamu. Kalo cara aku, bukan kayak gitu. Aku ngomong. Bukan menghilang.

  • ·        Tapi aku kayak gini bukan tanpa alasan : memang bukan tanpa alasan. Semua memang ada alasannya. Alasannya apa? Ayam alasan?

  • ·        Ada sesuatu hal yang gak bisa aku ceritakan tapi harus dimengerti : ntar, ya, kamu gak bisa cerita dan kamu maksa aku untuk ngerti? What is the maksud? Gimana aku mau ngerti kalo kamu gak cerita? Mungkin kamu juga gak tau kamu lahirnya dimana dan tanggal berapa, tanpa diceritakan sama orang tuamu.

  • ·        Kamu jangan sakit-sakit, ya, aku gak mau liat kamu sedih      : Kamu gak mau aku sakit, dan gak mau liat aku sedih. Tapi kenyataanya, ini yang kau perbuat.

  • ·        Kamu semangat kuliahnya. Bentar lagi tamat kan?      : itu kewajibanku. Tanpa kamu suruh, aku juga akan lakuin. Bukan kayak kamu yang tanpa alasan dan gak mau ceritakan apa alasan tersebut.

  • ·        Goodluck pelawak hatiku! : stop! It’s so fucking bullshit!!!


Dan kalian tau apa yang aku bales? Aku bales “Y, MKSH, GPP”

      Aku gak terlalu peduli. Aku sudah terlihat seperti orang bodoh. Tapi aku berfikir positiv, mungkin dia masih labil. Sama seperti yang pernah dia bilang ke aku waktu itu. Intinya, gak jodoh.

      Setelah kejadian itu, kami komunikasian seperti biasa, tanpa ada bawa-bawa perasaan yang dulu. Sekarang aku sama Gilea jadi teman, walaupun dia sudah buat aku berantakan! beginilah aku dengan segala kisah cintaku.


SEKIAN!!!

SALAM BERANTAKAN!!!

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Newer Posts
Older Posts

Nengok - Nengok

YANG PUNYA



Komposisi: Tulang, Daging, Nyawa, dan Nama!



SAYA DI TEMPAT YANG LAIN

  • instagram
  • youtube
  • twitter

recent posts

Blog Archive

  • June 2022 (1)
  • December 2021 (1)
  • March 2020 (1)
  • September 2019 (1)
  • June 2018 (3)
  • January 2017 (1)
  • December 2016 (2)
  • September 2016 (2)
  • May 2016 (1)
  • November 2015 (3)
  • November 2014 (1)
  • September 2014 (1)
  • July 2014 (1)
  • June 2014 (1)
  • March 2014 (2)
  • December 2013 (1)
  • August 2013 (1)
  • July 2013 (1)
  • June 2013 (1)
  • May 2013 (1)
  • April 2013 (2)
  • March 2013 (4)
  • February 2013 (3)
  • January 2013 (2)
  • December 2012 (3)
  • November 2012 (2)
  • October 2012 (1)
  • September 2012 (1)

Created with by ThemeXpose